Sangkarku berbentuk emas...
Aku
berparas...
Aku mahligai yang selalu jelas...
Namun bila ditindas akan
kubalas...
Pakai kelembutan hati yang berkelas...
Aku
bersangkar namun tak akan ingkar...
Ada astral dibawah jangkar...
Walaupun
aku bukan pendekar tapi aku juga bukan anak pasar...
Wahai wali didalam diri...
Ambil kasih
yang yang selalu mandiri...
Aku berdiri tak ingin berlari...
Hatiku pilu
jika engkau tak ada di sisi...
Wahai sahabat nabi pelimpah ilmu...
Aku mau
jadi muridmu...
Aku bertaqbir di hadapan Ilahi...
Namun.aku butuh bahana di
dalam hati...
Wahai Para Nabi Rasul Ilahi...
Aku hamba yang ingin berbakti...
Aku dilahirkan dan mati butuh ridho ilahi...
Hanya engkau pengajar di jiwa
dan hati...
Aku butuh lagu sorak - sorak
bergembira...
Jangan sampai Indonesia lara karena perantara...
Aku bernyanyi
sambil bergembira karena tanahku akan merdeka...
Sabda berkata" jangan binasa jika selalu alpa...
Jaringlah Indonesia
sampai merdeka...
Jangan sampai di jajah anak bangsa...
Ego berdiri dikaki
yang berduri...
Sakitnya sampai menjangkau hati...
Terobek sampai berdaki...
Aku terkilir di peraduan bumi...
Namun aku tak ingin jadi mumi...
Dibawahnya
mengendap api...
Asaku sudah hilang...
Rasaku tidak terbilang...
Namun aku tak pandai
berperang...
Yang pandai aku bertafaqur di balik ranjang...
Aku
bersimpuh dihadapan Ilahi...
Aku taqzim kebesaran Ilahi...
Aku menunggu
rejeki dari...
Aku hanya dapat bersimpuh di hadapan Ilahi...
Kantong hati, kantong yang tak dapat di beli...
Terisi dari sari nadi...
Aku akan setia akan janji...
Aku akan berbakti bagi
bangsa ini...
Getaran jiwaku tak akan tercoreng lagi...
Akan
kunamakan si jantung hati...
Aku tak akan berlari dari negeri ini...
Karena
bumi ini tempatnya surgawi...

No comments:
Post a Comment