Friday, April 15, 2016
Aku selalu berdialog dengan dasi...
Namun aku bukan perkusi...
Apa lagi jadi pengungsi...
Sangat ingin dikaji...
Dasi yang berimajinasi...
Berfungsi bagaikan sembrani...
Berkerah namun berdaki...
Tak sanggup dibohongi namun siap tak peduli...
Tatanan sudah kusampaikan...
Pola sudah kujabarkan...
Aku melebar tak berbenang...
Namun aku tak cari menang...
Karena aku bukan jagoan kandang...
Aku berdendang siang dan malam...
Suhuku sudah tak panas lagi...
Namun dingin tak dingin sekali...
Aku tak mau terseok di terali besi...
Karena aku bukan pandai besi...
Aku adalah aku...
Jajaran ditubuhku tak seindah nadi...
Hatiku perih bak baiduri...
Terkilir tak bertepi...
Karena sijantung hati tidak peduli...
Aah betapa aku ingin sendiri...
Berdialog dengan diri sendiri...
Mencari sendi - sendi...
Yang tergores aku perbaiki...
Yang menghitam tak akan kumaki...
Amarahku sudah tak sanggup lagi...
Salinan di bajuku sudah berwarna lagi...
Kuganti menjadi mini sekali...
Yang panjang kupotong dan kubagi...
Yang tidak selaras kugunting lagi...
Aku hanya ingin menjadi pendaki...
Sekali kudaki dua pulau kulewati...
Namun aku akan pakai bendi...
Yang kudanya beraroma dan peduli...
Wahai tubuhku yang indah sekali ??
Pandanglah aku sebagai permaisuri...
Aku pakai hati dan selalu berdiam diri...
Namun jangan sampai merobek keputusan yang sudah kuberi...
Karena aku adalah aku...
Sampailah kesudut waktu...
Aku akan menyatu dengan kekasihku...
Yang mau membantu dan mau tau...
Yang siap mengantongi jika aku malu...
Berjibaku dengan rindunya syahdu...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment