Friday, April 15, 2016






 







Aku seorang pejantan...
Yang siap di khitan...
Aku seorang pejantan...
Yang siap di pandang...
Aku seorang pejantan...
Yang berdialog bagaikan malam...
Romantika, jenaka, dan ingin merdeka...

Sayapku tak panjang... 
Aku bagaikan mahligai yang tak mau di larang...
Kubinasakan semua orang...
Walaupun aku masuk kekandang orang...
Ototku yang mengerang ingin bebas tanpa sarang...

Nadiku berpesan...
Jangan ada kata selamat malam...
Kalau sudah kelam akan hitam...
Bersetubuhpun akan menghitam...

Rodakupun sudah berjalan...
Tanpa yang dapat menonton pagi dan petang...
Nggak sanggup ditantang namun arogan...

Mana tabir, mana taqdir ???
Semua gamang !!!
Elokkah itu ???
Semua bertanya...
Apa lagi organ tubuhku...
Selalu dan selalu bertanya...
Siapa yang menyimpan...
Siapa yang disimpan???

Jangan seperti nampan...
Sudah tak terpakai...
Menjanjikan pada orang...
Hidupku jadi mengerang...
Ini siapa dan mau apa !! 

Kurobek jangkar ini...
Aku dipaku...
Keputus tali ini aku terbelenggu...

Nasibku diujung batu...
Menoreh tak berkelok...
Memandang tak berbelok...
Inilah si jantung hati yang berolok - olok...

Wajahmu tampan bagai perawan...
Elok rupawan diambil orang...
Aku akan berang caramu menendang...
Hanya bahasa kuman yang siap di tendang...

Leherku yang jenjang tak akan memandang...
Karena aku siap berdendang...
Walaupun sang perawan bermuka garang...
Hatiku sudah kepincuk orang...

Tabir nadiku berkata...
Jangan buat sengketa...
Biar dia binasa...
Karena tak ngerti arti bahasa...
Aku terpana bahasa ternyata DOA ??? 

Sabda yang akan kulemparkan...
Akan kutahan karena jasadku tak berkenan...

No comments:

Post a Comment