Aku ibarat kertas robek...
Yang
sudah usang...
Aku terdampar di penantian...
Aku menoleh dengan kepastian...
Aku yakin hidupku penuh kepastian...
Karena diriku hamba yang rindu akan
Iman...
Aku sebuah kias yang ingin berhias...
Aku ingin dihias seperti mahkota yang pandai bermunajad...
Aku bertakbir melalui bibir...
Aku tak sanggup mencibir melalui tabir...
Aku ingin bersandar di sarana taqdir...
Hatiku
tak akan pilu...
Jiwaku tak akan kelu...
Aromaku berbahasa malu...
Jika aku
tak tersambung dengan yang satu...
Jantungku berusaha berirama...
Dengan senada dan terpesona...
Aku tak mau disiksa...
Karena paru - paruku tak bernada setia...
Lambungku berirama lonceng...
Aku ingin hidup tak membonceng...
Aku akan menggikuti kata waktu...
Hidupku, sudah diatur waktu...
Limpaku berkata...
Jangan engkau pernah dusta...
Cahaya tidak akan ada...
Hidupmu pasti menderita...
Goyangan
di ususku mulai menari - nari...
Membangkitkan sanubari...
Bagaikan perkusi
yang sedang bersemedi...
Terjatuh bagaikan bidadari...
Ginjalku
mengatakan sakit...
Kalau aku tak akan bangkit...
Hidupku harus pakai rakit...
Berteriak namun tidak merasa sakit...
Wahai Hati"
engkau sarana impropisasi...
Engkau bagian dari janji...
Berdiri namun tak
berdiri...
Bercerita romantika...
Otakku sudah bulat...
Tak ingin dilipat...
Otak akan menjadi empat...
Jika aku ingin merapat...
Di sanubari yang selalu tepat...

No comments:
Post a Comment